Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa impor minyak mentah dari Amerika Serikat sudah mulai dilakukan sebagai bagian dari strategi pengalihan dari impor minyak dari Timur Tengah. Ini menandai langkah strategis dalam menjaga pasokan energi yang stabil bagi Indonesia.
“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,”
demikian disampaikan Bahlil setelah menghadiri buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, pada Rabu malam, 4 Maret.
Bahlil menekankan bahwa impor minyak tidak dapat langsung dilakukan dalam volume besar karena kapasitas penyimpanan yang terbatas. Oleh karena itu, selain mengalihkan impor dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, Indonesia juga mempercepat proyek pembangunan fasilitas penyimpanan baru untuk menghadapi risiko konflik di Timur Tengah.
Rencana pemerintah adalah meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak yang saat ini maksimal 25–26 hari, menjadi 90 hari, sesuai standar internasional. “Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,”
Bahlil menambahkan.
Investor sudah tersedia untuk pembangunan storage di Sumatera, yang saat ini dalam tahap studi kelayakan. Pembangunan diharapkan dimulai tahun ini untuk meningkatkan ketahanan energi Indonesia.
Isu ketahanan energi semakin penting di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan AS dan Israel pada 28 Februari ke Iran, termasuk Teheran, direspons oleh Iran dengan serangan balasan ke Israel dan fasilitas AS.
Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh media Iran. Situasi ini menyebabkan ketegangan di Selat Hormuz, yang penting untuk perdagangan minyak dunia, meski belum ada blokade resmi.